Kalo Rayi libur sekolah sendirian (dia sekolah 3x seminggu, kakaknya tiap hari) sok rungsing di rumah.. Bawa ke bengkel cuci mobil dan jajan ke warung cukup buat uring2annya berkurang sedikit di rumah. – at RF Motor

See on Path

Terjemahan bebasnya:

Pedofil atau predator tidak akan bermain adil, atau berpikir seperti orang kebanyakan. Oleh karena itu mereka melihat gambar erotis dan ‘target potensial’ mereka berbeda dengan kita.

Berikut adalah beberapa hal yang mungkin menarik bagi pedofil ketika melihat foto di media sosial:

– Yang jelas – seperti anak-anak menggunakan pakaian renang, pakaian dalam atau dalam keadaan tidak berpakaian. Bahkan menempatkan sensor emoticon yang menutupi bagian sensitif bisa diphotoshop sehingga bagian tersebut terekspos kembali untuk meningkatkan ‘harga’ atau ‘nilai’ foto tersebut. Coba kunjungi pantai South Bank di Brisbane dan saya bisa menunjukkan seseorang mengambil gambar anak-anak… anak-anak anda. Dan ya, polisi berpatroli untuk hal ini dan secara rutin menyita kamera dan ponsel. Ini terjadi beberapa meter dari orangtua yang sama sekali tidak sadar. Polisi bahkan tidak perlu menemui orangtua tersebut karena tidak perlu ada yang melapor untuk mereka bertindak mencegah ini. Jika menemukan yang seperti ini kita bisa bicara dengan orangtua, karena polisi terlalu sibuk dengan pelaku.
– Yang tidak terlalu jelas tapi sangat menarik bagi predator: Foto yang bisa mereka edit supaya membuat seperti anak atau remaja anda terlihat seperti mereka bagian dari kegiatan seksual. Foto seperti ini bisa diedit untuk menambahkan foto laki-laki dalam keadaan terangsang. Atau ditambahkan komentar yang tidak pantas sehingga foto tersebut menjadi meme bagi pedofil.
– Anak-anak seleb medsos. Semakin banyak foto diposting, dan semakin banyak coverage yang diperoleh gambar-gambar tersebut, semakin besar kemungkinan mereka untuk menjadi perhatian kelompok pedofil dan menjadi topik perbincangan dan perhatian mereka. Mirip dengan remaja yang mengidolakan bintang pop, foto-foto ini menjadi sebuah platform untuk imajinasi, fantasi dan perilaku cabul. Internet sekarang telah memungkinkan predator untuk membahas secara terbuka perilaku cabul mereka, dan karena mereka memiliki dukungan dari kelompok mengerikan mereka, mereka sekarang memiliki tempat untuk ‘normalisasi’ dan ‘strategisasi’ pikiran dan fantasi disfungsional mereka.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan ketika posting foto-foto anak-anak Anda:

– Apakah ada cukup ruang untuk ‘superimpose’ atau menambahkan sosok lain ke dalam gambar?
– Apakah mereka dalam keadaan tidak berpakaian (bahkan dengan sensor emoticon atau blur – sensor ini bisa dilepas dan bagian tubuh bisa diphotoshop kembali).
– Apakah Anda memiliki halaman media sosial yang disetting Public? Pedofil dapat memiliki mengembangkan “child crushes” atau naksir pada anak kecil dan anak tersebut tidak perlu pose atau dalam keadaan kurang berpakaian untuk menjadi komoditas mereka.

Hal yang perlu dipertimbangkan dari gambar anak remaja anda di media sosial:

– Duck face dan foto berpose digunakan sebagai gambar dasar di situs perdagangan predator.
– Gambar dengan pakaian renang dan pakaian dalam menjadi lebih berharga.
– Jika akun mereka Public maka jaringan predator bisa mendekati teman (atau musuh) remaja kita dan memberikan uang kepada mereka untuk mendapatkan gambar remaja kita.

Buka link untuk mengetahui lebih lanjut. The part about the 6-month-old baby and the naked man makes me sick :(((((((

https://sweatdepot.blogspot.co.id/2017/03/what-predators-look-for-when-you-post.html?m=1

View on Path

Resume Seminar Parenting PGTK MAIS

Hampir tidak jadi datang karena hujan gedee.. tapi sayang kan mumpung gratis dan sepertinya perlu update ilmu parenting dan suntikan semangat. Alhamdulillaaah berhasil mengalahkan futur dan menembus banjir demi kesini, karena berhasil “mengisi” gelas yang hampir kosong dan menjernihkan air yang mulai keruh didalamnya.

Memang akhir2 ini ya gegara medsos mamak jadi galau liat posting temen2 yg anaknya gambarnya bagus atau udah bisa nulis seumuran Raka atau bahkan lebih muda. Anak2 gw belum pada istiqomah megang pensil dan menggambar/mewarnai. Mereka cuma istiqomah main Lego dari bangun tidur sampai ketiduran malem masih megang Lego wk. Sampai sempat khilaf bilang ke Raka “Ka, Raka kan udah gede, udah harus belajar baca tulis. Nanti belajar sama Mama ya!” (karena di sekolahnya gak diajarin, soalnya emang nyarinya yang gak ngajarin calistung). Whahahaa lemah iman :,((

Alhamdulillah disini diingetin lagi ke jalan yang benar (versi saya loh ya.. klo anak lain mau diajarin calistung pas prasekolah mah monggooo). Anak akan berkembang sesuai kemampuannya.. jadi sabar ya Mamaaaa…. (iyaaaa.. hiks)

Kadang ada ustad yang nyantol dan nggak di hati. Kebetulan ini sejalan banget. Motto si Ustad sama banget sama motto hidup saya. yaitu Hadits sebaik-baik manusia yaitu yang paling bermanfaat bagi orang lain ini. Dan beliau juga yang tidak anti gadget lohh… Biar tidak penasaran, gadget boleh diperkenalkan tapi ya itu, bingkai dengan akhlak supaya mereka bisa menggunakannya dengan tanggungjawab. Kecuali untuk anak kecil karena ada batasan penggunaan supaya tidak merusak mata dan fisik lainnya.

AKHLAK tetap yang utama yaaa.. Harus sabar kata Pak Ustad. Mendidik emang bukan proses instan, kita baru bisa menuai hasilnya 20 tahun kemudian.

Sabar.. mau lesin anak ini itu.. sabar dulu.. ajarin dulu adab berinteraksi dengan orang lain, fokusin dulu di ngajinya.. lulusin dulu Iqro-nya baru mikir mau masukin les macem2.. (ngomong ama diri sendiri)

__

MENDIDIK ANAK BERDASARKAN BAKAT
disarikan dari Seminar Parenting AYAH BUNDA JADIKAN AKU BINTANG di Mentari Ar Ridho Islamic School 18 Maret 2017
Narasumber: Ust. M Ferous

Usia 0-6 tahun adalah usia tumbuhkembang. Sedangkan calistung adalah keterampilan akademis. Sehingga di bawah 6 tahun memang tidak ditekankan pembelajaran calistung tetapi pada keterampilan tumbuhkembang yang diperlukannya untuk sukses dalam akademis dan bidang lainnya. Keterampilan tumbuhkembang misalnya keterampilan sosial emosional, motorik, verbal dan lain-lain. Jadi orangtua harus fokus pada tumbuhkembang dibandingkan akademis di masa prasekolah. Karena ke depannya keterampilan akademis yang ditekankan dalam kurikulum saat ini seperti matematika, sains dan lain-lain perlu tapi tidak fardhu ain. Artinya semua orang wajib mempelajari tapi tidak wajib menguasai. Jadi misalnya anak sudah belajar dan tidak suka sehingga saat ujian nilainya jelek, jangan dimarahi. Bisa jadi memang bakatnya bukan disitu. Tapi yang penting dia sudah belajar. Ilustrasinya begini, pengetahuan tersebut dibutuhkan untuk dia bisa jadi saintis atau dokter misalnya. Tapi apakah semua orang akan jadi dokter? Jadi dokter itu fardhu kifayah, bukan fardhu ain. Yang penting kita sudah memfasilitasi dia untuk belajar sehingga dia bisa tahu kemampuan dia.

Maka perlu dibedakan antara LULUS dan TAMAT. Ujian (seperti UN) tetap perlu tetapi untuk mengukur kemampuan dan bukan untuk menentukan apakah dia lulus atau tidak. Matematika, IPA dan semua tetap perlu diajarkan dan diujikan tetapi saat anak kurang performanya di salah satu bidang studi, tidak serta merta kita anggap anak itu bodoh. Karena bakatnya bukan disitu. Yang jelas anak perlu diapresiasi karena sudah TAMAT sekolah. Seperti dulu diterbitkan SURAT TANDA TAMAT BELAJAR bukan IJAZAH atau tanda kelulusan.

Bagaimana kita melihat bakat anak? Yang jelas bukan kita sebagai orangtua yang menentukan, tapi anak sendirilah yang harus bisa menemukan sendiri bakatnya. Yang kita bisa lakukan adalah memfasilitasi, lalu mencatat supaya memudahkan proses pencarian bakat ini. Bakat memang beda tipis dengan hobi. Bakat adalah sifat yang mempengaruhi aktivitas. Ditentukan oleh 4E:
Enjoy
Easy
Excellent
Earn
Jadi kalau anak suka main game misalnya, dalam banyak kasus itu bisa jadi hobi atau bahkan pelarian dari aktivitas lain yang tidak disukainya. Jadi baru tahap Enjoy dan Easy. Kalau anak suka menggambar, tapi tidak bagus gambarnya, berarti belum jadi bakat karena tidak Excellent. Tapi kalau anak suka menulis dan bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dengan kegiatan menulisnya, bisa jadi itu bakatnya. Atau ada anak yang justru jago menggambar, tapi dia tidak enjoy melakukannya. Berarti itu bukan bakatnya.

Penentuan bakat bagi anak di bawah 12 tahun sifatnya dinamis dalam bentuk portofolio. Anak biasanya akan menyukai banyak hal selama 12 tahun itu. Misalnya awalnya dia sangat tertarik menggambar, kemudian beberapa tahun kemudian jadi memasak. Kita fasilitasi saja dan jangan menekan anak untuk menentukan pada satu pilihan atau kegiatan. Agar mudah bagi anak mengenali bakat, orangtua dan sekolah bisa memfasilitasi dalam 3 BANYAK:
BANYAK berinteraksi dengan
BANYAK orang dalam
BANYAK ragam kegiatan

Yang terpenting dalam proses 3 BANYAK ini agar dapat dilaksanakan dengan baik harus dalam bingkai AKHLAK. Ini adalah tugas utama orangtua. Modalitas akhlak adalah MALU. Anak harus diajarkan rasa MALU. Tidak perlu diajarkan karakter yang baik karena pada dasarnya saat anak lahir fitrahnya adalah berkarakter baik. Coba anak kecil pasti tidak bisa bohong, jadi jangan ajarkan anak kejujuran karena anak pasti jujur. Kita sendiri yang mengajarkan kebohongan kepadanya. Tapi tanamkan rasa malu sehingga saat dia ingin melakukan hal yang tidak baik akan diurungkannya karena malu, atau dia akan bertanggungjawab jika melakukan sesuatu yang tidak pantas.

Selain itu ajarkan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR Imam Tabrani). Jadi ukuran sukses di dunia bukan banyak harta atau jabatan tapi seberapa banyak dia bermanfaat bagi orang lain. Ilustrasinya begini, seorang nenek yang sakit hanya mau dirawat oleh perawat baru dibanding suster kepala yang berpengalaman. Ternyata si perawat baru ini memiliki empati, dia bicara dengan lembut sampai si nenek tidak terasa waktu disuntik. Sementara dengan suster kepala, walaupun dia lebih berkompeten dalam tugasnya tapi dilakukan secara prosedural tanpa basa-basi. Jadi walaupun si suster kepala memiliki jabatan dan harta, namun si perawat baru yang menuai manfaat dan mungkin pahala lebih banyak dari pekerjaannya itu.

Bantu anak temukan bakatnya sendiri, dengan begitu dia akan jadi bintang.

 

collagebgbgbg

#RepostSave @babyhijaber with @repostsaveapp
· · ·
Pengalaman mengajarkan saya secara menohok, hingga saya tidak pernah terlintas menjudge postingan orang lain. Selama postingannya tak melanggar aturanNya saya kok ga terpikir untuk menjudge.

Beberapa kejadian nyata di circle saya

Ada kawan saya yg posting throwback liburan ke luar negerinya terus menerus, yg ga tau mungkin komen dalam hati norak pisaan … Bikin illfil, pamerr. Mereka ga tau, yg punya akun 3 bulan tergeletak di RS menjalani serentetan treatment yg melelahkan jiwa raga. Saya bisa merasakan postingannya merepresentativekan kerinduannya pada sehatnya, penguat dirinys, semangat untuk pulih lagi karena dia ga pernah sekalipun posting prihal sakitnya, prihal keadaannya yg sedang di rawat.

Ada juga teman yg always selalu ga pernah absen posting keceriaan anak2nya, kecerdasan anak2nya … Yg bisa bikin baper yg belum punya anak, kemudian itu lebay dan ga sensitif? Follower ga tau kalau anak2nya lah penguatnya saat ini … Pasca dia menyaksikan suaminya selingkuh di depan matanya.

Ada yg posting keseharian keceriaan hidupnya, semangat berkaryanya semata ingin meninggalkan jejak kelak untuk keluarga dekatnya karena dia sedang fighting untuk sakit yg serius

Ada yg benar2 ingin berdakwah via sosmed, tulisan2nya keren, sering repost streaming2 video dakwah karena kawan saya ini punya keterbatasan gerak, kursi roda membuatnya sulit menghadiri kajian tanpa ditemani, sementara sang suami sibuk ikhtiar cari rezeki untuk hutang riba peninggalan orang tua yg menumpuk.

Itu mengapa saya ga pernah judge postingan orang lain, selama baik2 saja sesuai rules

Ada sejuta kisah dibalik postingan orang

Kita ga bisa mengatur orang lain posting apa

Kita yg bisa mengatur hati kita, agar tak sakit lihat “kebahagiaan yg ditampilkan” orang

Un install saja jika sosmed membuat hatimu tak siap melihat orang lain bahagia

Karena banyaak dari para penebar kebahagiaan ini, yg menyembunyikan kesedihannya karena tahu caranya bersyukur.

Copas dari IG @babyhijaber

View on Path

Foto di Ruang 307

Ngajar ditemani 2 asdos cilik yg duduk dikursi dosen like a boss selama mama ngajar sambil berdiri. Sambil main lego dan baca buku trus lari2 keluar masuk kelas berdua tapi gak sekalipun ngeluh.. selama sejam setengah mama cuap2 ngajar lancar tanpa interupsi. Pulangnya melewati kemacetan 2,5 jam pun gak ada rewel2nya jadi pegel2nya mama gak kerasa. I love you boys.. Thank you for today.

View on Path